Rais Muhammad K. S

Holiday

Holiday in Slamaran Beach. Rais Muhammad K.S

Sepatu Rendy

Hari Sabtu ini bukan hari Sabtu biasa. Hari ini tengah berlangsung perang dingin, seisi kelas empat  telah tahu. Semua teman-temanya tentu amat meyesalkan peristiwa ini sampai terjadi.

Sesungguhnya antara Abid dan Hakam telah terjadi hubungan pesahabatan yang amat erat. Keduanya duduk sebangku, pandai dan periang. Tanpa keduanya, barangkali kelas empat tak bakal diperhitungkan dalam kegiatan Sekolah, baik bola kasti, sepak bola maupun atletik. Satu-satunya orang yang barangkali amat bergembira mendengar perselisihan ini adalah aku!

Siapa lagi orangnya yang akan memakai uang kas kelas itu kalu bukan Abid sendiri. Selaku bendara utama kelas, Kam, buktinya kemaren dia membeli Tas Punggung baru’’ ujarku seminggu lalu ketika Hakam mengeluh tentang laporan keuangan kas kelas yang telah hilang dan belum jelas.

Hakam nampaknya amat terpengaruh dengan dugaanku itu, Hmm……siapa tahu’’ desis Hakam,’’sungguh terlalu, pantesan kemarin dia tidak menjawab ketika aku tanya tentang laporan keuangan kelas kita! Aku harus membuat perhitungan! Lanjutnya dengan hati gundah.

‘’Memang sebaiknya  begitu, Kam’’ tukasku memberi semangat’’ bukankah ini juga tanggung jawabmu sebagai ketua kelas, jika memang benar maka nama baikmu sebagai ketua kelas bisa hancur, karena dia bendara dan teman sebangkumu sendiri, bisa bisa kamu dicurigai kerjasama?’’

‘’Aku tidak berbakat untuk korupsi, Rendy,!’’ tukas Hakam Sengit

Maka pertengkaran mulut antara keduanya pun tak terelakkan lagi. Kalau saja pak Wali Kelas tak segera datang melerai, tentu keduanya akan saling baku hantam.

‘’ kalu begitu jelas kalian berdua telah diadu domba oleh seseorang yang tidak senang dengan keakraban kalian berdua’’,  ujar pak Wali kelas setelah mendengar penuturan keduanya. ‘’ Nah, sekarang bermaaf-maafanlah!’’

Keduanya memang saling berjabat tangan, namun tidak berarti telah melupakan persoalan kehilangan itu. Saling curiga mencurigai tetap berlangsung dan dugaan wali kelas sama sekali tak mereka pedulikan.

‘’ Sebaiknya engkau pindah duduk saja, Abid’’, bujukku pagi tadi’’ sungguh tak mengenakkan bukan duduk sebangku dengan permusuhan?’’.

Lanjutku bersungguh-sungguh.

Sejenak Abid mengerling padaku, namun ia menggeleng,’’ Maaf, usulmu ku Tolak!’’ ujarnya datar sambil senyum sinis.

Sebagai murid yang tak begitu pandai, memang aku tak sepadan jika mesti duduk sebangku dengannya yang berotak encer. Namun aku coba memaksakan dengan segala cara agar salah satu diantara keduanya bisa duduk sebangku denganku. Aku tak ingin nilai-nilai ulanganku jeblok dan paling bawah dari rata-rata nilai kelas. Segera kubujuk Karim. Jawaban yang kuperoleh pun senada. Dia tak mau duduk sebangku denganku. Upayaku untuk menjadi pengail di air keruh telah menemui kegagalan.

Dan pagi tadi setelah istirahat pertama pak Wali kelas Empat MI Salafiyah Gapuro mengumumkan ada pertandingan sepak bola antar sekolah sekecamatan. Seisi kelas meyambut gembira.

Tapi semua terkejut ketika Hakam berkata,’’ Aku tak bakal main jika Abid main juga’’. Begitu juga ucapan Abid. Pendeknya keduanya sepakat untuk mogok bermain, padahal Abid dan Hakam adalah penyerang dan penjaga gawang yang sama hebatnya. Tanpa keduanya, tentu terlalu sulit bertanding untuk meraih kemenangan. Sekali ini akupun turut bersedih atas bencana ini. Bagaimana juga, aku tak ingin kelasku menelan kekalahan dalam perandingan itu. Permusuhan antara keduanya telah merugikan seisi kelas. Semua teman-teman memang telah berusaha untuk mendamaikan permusuhan ini. Sayang, semuanya mengalami kegagagalan. Keduanya tetap sepakat untuk tidak sepakat. Sampai akhirnya kelas kami mengalamai kekalahan pada babak penyisihan yang pertama kalinya.

                                                #############

Malam kian larut. Kentongan di pendopo kelurahan baru saja di pukul peronda tiga kali, namun aku belum juga mampu untuk tertidur. Pikiranku sangat galau. Aku amat tersiksa jika sampai Hakam dan Abid terus-terusan bermusuhan hanya karena sebab yang sebetulnya tak perlu terjadi.

Ditambah setelah pertemuanku dengan Pak Wali kelas, yang berpesan kepadaku agar aku mempertanggung jawabkan atas tindakan yang aku lakukan pada Abid dan Hakam. Mengenai kejadian yang sebenarnya.

Memang penyesalan itu selalu datangnya terlambat, namun lebih baik terlambat ketimbang tak ada sama sekali. Bagaimanapun juga aku mesti menjernihkan persoalan ini. Apapun resikonya, aku sudah siap untuk menanggungnya. Segera kutulis dua pucuk surat untuk Abid dan Hakam.

Surat pengakuan…..

‘’Maafkan aku, sahabat. Aku tak ingin kalian berdua terus menerus dilanda permusuhan. Berdamailah, dan sudilah membela kelas kita dalam pertandingan yang akan datang, kita masih punya kesempatan, karena sesungguhnya, yang memakai uang Kas Kelas itu aku, aku sengaja mengambil uang itu, setelah menyetorkanya ke Abid. lalu aku bilang kepada Hakam kalu Abid lah yang mencuri uang itu. Aku sengaja melakukan itu, karena aku tergiur ingin membeli sepatu baru untuk pertandingan bola antar sekolah yang kita ikuti. Sedang aku tak memiliki uang, dan kebetulan aku ditugaskan untuk menariki iuran kelas. Dan kemudian untuk disetorkan ke Abid.  Tanpa pikir panjang . Maka akhirnya aku gunakan uang itu dan bilang  kepada Hakam, dan mencari alasan kalu Abid lah yang memakai uang Kas itu. Padahal akulah yang menggunakan uang itu. Aku salah sudah memfitnah Abid. Sebenarnya justru yang korupsi itu aku sendiri. Dan kalian jangan khawatir, aku akan mengganti dan mngembalikan uang kas kelas itu. Karena saya sudah berjanji kepada pak Wali kelas.’’

Entah kenapa, tiba tiba saja ada rasa lega begitu aku selesai menulis surat pengakuan ini. Dan aku berjanji pada diriku untuk menebus dosa-dosaku. Semoga saja tuhan sudi memaafkan kesalahanku.

EUNBI

SABTU, jam empat sore, dua perempuan akan bertamu ke rumahku. Salah satu dari mereka bernama Eun Bi, teman baikku, sudah bertunangan tujuh bulan lalu. Harapan yang paling sering kudengar darinya adalah keinginannya memiliki dua anak perempuan.
Persis seperti yang dimiliki Eonni. Anak perempuan bisa menjadi teman di berbagai suasana, anak lelaki kadang memiliki selera yang jauh berbeda, begitu Eun Bi beralasan.
Sebelum Eun Bi bertunangan aku pernah menyatakan rasa suka padanya, dan ia menolakku, “ Kim Jae, Kau tampan, juga baik hati. Sayang sekali kau bukan tipe lelaki yang kuinginkan untuk sebuah pernikahan. Eun Bi menggenggam tanganku, paling tidak kita tetap berteman,“ ujarnya kemudian.
Pertemanan tentu tidak memerlukan jawaban seperti ketika seseorang menyatakan cinta, maka aku tidak mengangguk atau menggeleng. Aku hanya merasa bahwa kami memang hanya akan berteman sampai kapan pun.
***
SEMINGGU sebelum pertunangan Eun Bi, aku datang membawa sekantong Kue Beras buatan ibu ku. Bibir merah mudanya amat merekah atas kejutan itu.
“Jangan begini,“ bisiknya berusaha kuat menahan suara.
“Apa yang salah,“ aku menatapnya.
“Kim, Ini menjadi berbeda jika diberikan pada perempuan yang akan menikah dengan lelaki tidak romantis yang bahkan tidak terbiasa memberi kejutan pada hari spesial. Ini bisa mengganggu perasaanku selama berpuluh-puluh tahun.“
“Tidakkah ini sesuatu yang pantas,“ ujarku.
Ia menggelengkan kepala, “Ayolah, aku tetap merasa ini berlebihan.“
Aku tertawa. “Untuk terakhir kali,“ kataku meyakinkan.
Ia terharu. Bibirnya sedikit gemetar. Ia pun bergerak mundur membawa sekantong Kue Beras yang terus ia tempel di dadanya. Wajahnya tidak tersenyum, namun tidak juga cemberut. Ia hanya mencoba menenangkan diri. Setelah Eun Bi bertunangan, kami tidak pernah lagi bertemu. Paling tidak kami tetap berkirim email.
Kadang aku menelepon sekali-sekali. Atau sebulan lalu ia kirim pesan pendek saat aku ulang tahun, dan aku membalas dengan menelepon pukul dua belas malam. Ia bertanya mengenai hadiah ulang tahun apa yang paling kuinginkan, aku bilang: kamu dan senyummu yang manis pada saat hujan. Cukup itu saja. Tawa Eun Bi berderai-derai. Ia mengaku sudah agak lama tidak tertawa .Aku bertanya, apa lelaki itu tidak marah bila ia tahu aku menelepon tengah malam.
Ia berkata, tunanganku sedang dinas ke Seoul, dan ia tidak akan tahu apa-apa jika aku tidak memberitahu.
Aku bertanya lagi, apa aku boleh meneleponmu setiap malam jika nanti kau sudah menikah.
Ia meminta, Hajima.
Kenapa, tanyaku.
Pokoknya jangan.
Aku berujar, baiklah kalau aku tidak boleh meneleponmu setiap malam saat kau menikah nanti maka aku tidak akan juga meneleponmu lagi pada waktu yang sama setelah malam ini.
Kami sama-sama diam. Bahkan aku tidak ingat siapa persisnya di antara kami yang berinisiatif mematikan telepon malam itu saat titik hujan menyerbu atap rumahku. Aku sempat mendengar Eun Bi bertanya pelan: di sana hujan? Kemudian terdiam sangat panjang.
Beberapa minggu kami tidak saling menyapa, baik lewat email, telepon, Facebook, atau pesan pendek sampai akhirnya aku memecah kebekuan itu. Aku mulai berkirim email lagi. Aku bercerita mengenai tulisanku dan dia yang sebentar lagi akan diterbitkan dalam bentuk Novel. Ia menanggapi dengan antusias. Surat balasannya sangat panjang. Semuanya berisi tentang pertanyaan seputar Penerbit mana yang akan mnerbitkan Novel Itu. Dan dia tidak sabar untuk membaca bukunya. Aku kira ia agak memaksakan diri. Semua orang-orang dekatnya tahu ia malas sekali untuk meyempatkan diri membaca Novel, apalagi ini bukuku. Aku menikmati kebohongannya.
Kemudian seminggu lalu ia mengirim pesan pendek: Boleh aku ke rumahmu minggu depan, sore hari. Aku balas: Kau tahu sekarang musim hujan, terutama sore. (padahal sebenarnya aku mau bilang: apa tunanganmu tidak marah). Ia kirim pesan pendek lagi: apa kau akan sibuk sekali pada musim hujan hingga tidak mau bertemu denganku.
Aku tulis: Sigan nal tae eonjedeunji nolleo oseyo” dan aku pertegas lagi, Jangan salah sangka. kutunggu, kamu dan hujan.
Ia tidak membalas lagi. Aku tidak tahu apa ia benar-benar berani datang bersama turunnya hujan.
Semoga saat itu terjadi hujan turun tidak terlalu deras. Aku tidak ingin melihat make up-nya rusak atau rambutnya sedikit berantakan. Rambut itu, masihkah tetap sebahu?
***
EUN BI dan temannya sudah berdiri di teras saat aku muncul dari samping rumah dengan tubuh lumayan kotor. Hal pertama yang kuperhatikan dari Eun Bi bahwa ia tidak berdandan. Dan ia terlihat lebih cantik dari saat terakhir kami bertemu, kurang lebih lima bulan lalu. Ia tetap kurus. Rambutnya masih sebahu. Pakai poni sedikit tebal. Satu tangannya memegang payung. Di belakangnya titik hujan menyempurnakan imajinasiku mengenai perempuan dan hujan.
“Apa aku tampak kacau?“ Eun Bi menggoyangkan rambutnya.
“Kau tampak cantik,“ kataku.
Eun Bi memandangku, sedikit memelas. “Ini temanku,“ ia berujar.
Aku melambai pada teman Eun Bi.
“Mau kubuatkan teh panas?“ tanyaku.
“Sedikit gula,“ ujar Eun Bi.
Sementara teman Eun Bi memberi kesan: Apa saja boleh.
***
AKU membawa tiga cangkir teh panas. “Apa sebaiknya kita duduk di dalam,“ aku menawarkan.
“Tidak. Di sini saja,“ timpal Eun Bi.
“Sempurna,“ ujarku.
“Apa?“ “Sore ini.“
Aku meletakkan tiga cangkir teh di atas meja bambu. Eun Bi dan temannya tengah menatap hujan.
“Temanku, Hye Mi, juga suka hujan.“
Aku sedikit bisa menebak tujuan Eun Bi membawa teman bernama Hye Mi itu, yang ternyata suka hujan.
Tampaknya Eun Bi berusaha keras mempertemukan aku dengan seseorang, dan lalu menjadikan hujan sebagai alasan kenapa kami cocok menjadi pasangan. Hye Mi agak risih. Ia mengambil secangkir teh dan meminumnya satu tegukan. “Oh ya, Hye Mi juga ingin sekali melihat koleksi tanamanmu,“ Eun Bi belum berhenti. Aku dan Hye Mi bertatapan.
“Aku keluar dulu,“ Eun Bi mendadak berdiri.
“Ada apa?“ aku bertanya heran, “Kau belum minum teh-mu dan kita belum melihat tanaman yang kuceritakan.“
“Aku akan kembali. Kutitip temanku sebentar ya.“
Eun Bi mengambil payung dan memandang ke arah Hye Mi, seakan mereka tengah merencanakan sesuatu. Kemudian Eun Bi telah bergerak dalam hujan. Tubuhnya menyerupai bayang-bayang dalam guyuran hujan itu. Kalau tidak ada Hye Mi yang tertinggal di teras rumah, aku pasti mengejar Eun Bi. Pasti.
Selama satu jam Eun Bi belum kembali. Selama itu pula aku dan Hye Mi berbincang mengenai hujan, tanaman, film, music dan Buku. Perlahan aku menyadari Eun Bi sengaja membiarkan kami berdua saja. Aku mau tertawa. Aku bisa saja menghubungi HP Eun Bi, tapi itu pasti tampak kanak-kanak di hadapan Hye Mi. Aku mengajak Hye Mi ke kebun di samping rumah saat langit menyisakan gerimis. Wajahnya terlihat senang saat aku menunjukkan adenium, aglaonema, anthurium, euphorbia, dan begonia. Ia juga tidak henti tersenyum saat aku memperlihatkan jenis-jenis bunga potong yang kebetulan sedang kembang, seperti krisan dan aster.
“Waktu kecil aku ingin sekali menjadi penjual bunga potong.“ Wajah Hye Mi berseri.
“Kemudian kau membuang impian itu?“
“Ia pergi sendiri dariku perlahan-lahan.“
Aku dan Hye Mi tersenyum.
“Apa ini bisnis?“ tanya Hye Mi.
“Tidak,“ kataku.
“Oh, cuma hobi,“ Hye Mi menyimpulkan.
“Kurang lebih.“
Hye Mi bercerita kalau ia seorang Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Inha di Kota Incheon. Tentunya ia menyukai kegiatan sosial pada anak-anak. Bisa terbaca dari kegiatan yang selama ini dia lakukan pada lembaga-lembaga sosial lainya. Dan aku telah berjanji pada Hye Mi untuk belajar bersama anak-anak tentang tanaman di kebunku minggu depan dalam program pengembangan sosial lainya.
Aku mengantar Hye Mi sampai ke ujung gang. Ia memutuskan pulang tanpa menunggu kepastian dari Eun Bi. Sesungguhnya aku curiga Hye Mi tahu betul kalau Eun Bi tidak akan kembali sore itu. Aku sampai ttak menghiraukan ketika Hye Mi melambaikan tangan sembari mengucap
‘’ Annyeonghi kyeseyo’’
‘’Annyeonghi kaseyo’’ balasku pada nya
Setelah mengantar Hye Mi, aku menuju rumah yang terasa lebih kosong dari jam-jam sebelumnya.
Hye Mi, ia perempuan cukup manis kalau saja mau mengubah potongan rambut sepinggang itu. Aku suka perempuan rambut sebahu. Itu tidak adil, hatiku berkata. Mana bisa Hye Mi menjadi seorang Eun Bi.
***
SEKARANG aku masih saja mengingat sore hujan itu. Eun Bi memang tidak pernah kembali ke teras rumahku -bahkan ia juga mengganti nomor HP dan tidak membalas emailku.
Hye Mi datang lagi bersama anak-anak. Hanya sekali saja. Kami tidak terlalu berminat membuat pertemuan berikutnya. Hye Mi memang sempurna, tapi ternyata aku tidak tertarik perempuan yang demikian. Hye Mi teramat hati-hati dalam banyak hal, dan itu sedikit menakutkan bagiku.
Aku justru menyukai perempuan (tentunya karena perempuan itu Eun Bi) yang pemalas dalam hal berkebun dan berantakan. Atau perempuan yang bisa mengeluarkan apa pun yang ia rasakan secara lepas dan spontan.
Dan sore terakhir datang ke rumahku, ia benar-benar memperlihatkan kecantikan alaminya.
Rambutnya yang selalu sebahu seakan sengaja ingin menggodaku. Atau poni lucu yang baru pertama kulihat. Ia lebih sederhana dari Eun Bi yang kukenal dulu.
Aku sering merasa Eun Bi sengaja menciptakan kesan yang bisa membuatku terus mengingatnya dalam berbagai pecahan warna.
***
LALU tibalah hari itu. Aku mendapat undangan pernikahan. Tentunya dari Eun Bi. Aku tidak tahu siapa yang mengantar. Kebetulan aku tidak di rumah. Bisa jadi Eun Bi sendiri yang datang. Undangan itu ditinggalkan di bawah pintu. Aku tidak membuka undangan itu, sebab aku sudah memutuskan tidak akan datang dari jauh-jauh hari. Aku tak bisa melihat Eun Bi memakai gaun pengantin. Ah, Kau pasti terlihat manis, Eun Bi. Terutama jika kau membiarkan ponimu lepas di keningmu saat kau berjalan menuju altar, menjalani pemberkatan di gereja.
***
EMPAT tahun setelah menikah, Aku dan Istriku memutuskan untuk tinggal di Indonesia, kemudian Eun Bi memberiku kejutan dengan mengirim email: Dalam kehidupan setiap Setiap Cinta yang kita miliki tidak akan pernah hilang. Dan ia menjadi lengkap jika kita saling memahami.
Aku balas emailnya: 가장 큰 실수는 어떤 조치를 취할 수 없습니다, apakah kau termasuk?
Eun Bi tidak pernah membalas emailku. Tidak pernah. Namun aku bisa merasakan kalau ia sering menikmati hujan dari kamar sambil membaca berulang-ulang ‘’sadness in the rain’’ yang kukirim pada hari pernikahannya. Sesekali bisa jadi Eun Bi menangis, seperti sore ini aku memandang hujan dengan kesedihan yang sama.
Kemudian seseorang berkata di belakangku, “Hujan begini membuatku ingat Eun Bi. Dialah yang mempertemukan kita sore itu.“
Aku bergumam pelan, hmmm.
======================
Pekalongan, Incheon 2012-2016
Rais Muhammad K. S,
Laki- laki kelahiran Pekalongan tahun 1989. Buku antologi cerpenya adalah adalah: “Tentang kami para penghuni sorter : Purnama di tepi sungai Brantas” (kupu – kupu publiser, 2012), Aktif di dunia teater anak, ‘’ Akar Jerami “ dan sebagai tenaga Pengajar di MI Salafiyah Gapuro Batang. Email khadlon@yahoo.com contak Persen. 085600769729.

29 Maret 2009

23 Maret 2009, dimana dihari itu, aku harus mengubur dalam-dalam anganku, impianku, dan semua harapanku, yang sejak dulu aku bangun sirna sudah. Bibirku bergetar, dadaku berdebar, mimpiku hilang, disaat aku harus meyaksikan Dia bersanding dengan orang lain dikursi pelaminan, yang mestinya orang lain itu aku.

‘’sudahlah , ikhlaskan saja, mungkin dia bukan jodohmu,’’

‘’tapi aku mencintai dia’’

‘’kalau kamu mencintai dia, biarkan dia bahagia dengan pilihanya’’

‘’ iya, semoga kebahagian selalu meyertaimu iffah,’’

Iffah, gadis yang selalu memberiku motivasi, semangat hidup, dan arti hidup bagiku, bisa dikatakatan dia gadis yang sempurna di lingkungan pondok pesantren, waktu aku masih tinggal di pondok dulu, wajahnya yang rupawan yang membuat orang terpesona ketika melihatnya. Suaranya yang merdu, yang mendayu disetiap penjuru komplek pondok saat dia melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an setiap senja tiba.

*******

Sudah Enam tahun berlalu sejak dia Memasuki Sekolah. Sekolah dimana dia dan aku belajar menggapai Impian bersama. Dan sejak itu pula enam tahun lalu. Orang-orang membicarakan mengenai kecantikan dan kecerdasan dia sampai sekarang.  Aku hanya mengingat sedikit mengenai dia sebelum berita itu ramai tersebar ke seluruh penjuru Kompleks Pondok Pesantren, bahkan ke beberapa kampung sebelah mengenai Pernikahanya dengan Putra Yai Pondok Pesantren Ternama di Kota itu . Saat itu aku masih ingat kita bertemu di bulan pertama, ketika pertemuan OSIS diadakan. Kau duduk paling depan, sedang asyik berbicara dengan Ketua OSIS itu.

Aku paling malas dengan aktivitas keorganisasian di sekolah atau kegiatan berkumpul dengan orang-orang semacamnya, maka aku memilih kursi yang paling belakang di deretan tatanan kursi yang disediakan untuk para tamu undangan, menyendiri di sudut ruangan menghindari orang-orang. Kalau saja ini bukan delegasi per kelas, maka aku tentu lebih memilih pergi dari tempat Kerumunan itu.

“Farkhan!” seseorang memanggilku. Aku menoleh, dan tepat saat itu aku tahu bahwa dia yang memanggilku.

“Ayo kesini,” katanya keras hingga orang-orang di sekeliling melihat ke arahku.

“Sebentar ya kak, saya menemui farkhan dulu,”ujarmu kala itu meminta ijin kepada Ketua OSIS.

Dia berjalan cepat ke arahku, lalu menarik tanganku tanpa ragu. Aku berdiam saja disitu, dan mencoba menepis tangannya yang menggandengku. “Apa-apaan ini.” Kataku ketus ke arahmu.

“Ayolah, kesini… kau harus berbicara dengan ketua OSIS bersamaku. Bukankah pertemuan ini juga untuk setiap kelas?” dia memelototiku dengan tajam ketika tangannya kutolak mentah-mentah.

“Kau bisa bicara sendiri kan,” kataku tanpa basa basi.

“Oh, jadi seorang Farkhan seperti itu ya? Punya ide, lalu diungkapkan, lalu tanpa merasa bersalah mundur pelan-pelan. orang macam apa kamu ini. Tidak malu kau sama dirimu yang sudah hadir disini?” Ia semakin galak memarahiku.

“Hei, aku tak bermaksud seperti itu.” Kataku menyahut.

‘’Lagian jangan pegang tanganku, nanti kalu ketahuan Pak Mufid bagaimana,’’ kataku sambil melihat kanan-kiri apakah ada yang melihat, atau yang mengawasinya.

“Lalu apa?” tambahmu.

Aku diam lalu menghampirinya yang menampakkan muka kesal. “Aku tak biasa tampil sepertimu di hadapan orang-orang.” Aku jujur mengakui kepadanya hari itu kalau aku sungguh tak memiliki nyali untuk ngomong di depan orang banyak.

“Oke, hari ini kau bisa bebas. Tapi besok, kita harus bicara. Jam setengah Enam pagi di kantin sekolah. Aku tunggu.” dia berlalu meninggalkanku lalu menuju kerumunan yang lain.

Hari itu aku pulang cepat, dan memikirkan banyak hal tentangnya, juga mengenai pertemuan besok pagi.

* **

Pukul setengah Enam pagi aku telah sampaidi kantin, setelah serangkaian acara pondok yang aku lalui mulai dari jam 4 pagi, aku datang untuk menemuinya di kantin Sekolah. Aku tak suka seperti ini diatur jadwal kegiatanku oleh orang lain, termasuk dia. Aku sebenarnya lebih suka berdiam diri di Kelas atau membaca buku di Perpustakaan Sekolah. Berada di Perpustakaan membuatku bisa menjadi diriku sendiri, karena aku bebas mengatur kegiatanku sesuai keinginanku. Tapi dengan jengkel dan terpaksa aku harus segera berangkat ke kantin, tempat yang dia janjikan disana kita bertemu. Tak jauh dari Pondok Pesantrenku. Jaraknya kurang lebih satu kilo. Aku cukup berjalan kaki menuju kesana, apalagi di pagi hari udara masih segar.

“Kau sendirian?” tanyanya dengan senyum terkembang.

Aku mengangguk, lalu mengamati penampilannya hari itu yang terlihat berbeda dengan biasanya. Tak biasanya dia tanpa memakai kacamata yang memperlihatkan dia semakin cantik.

“Kau bisa tanpa Kaca Mata?” tanyaku menyindir.

“Tentu. Kau tak pernah melihatku tanpa Kacamata? Makanya kau harus banyak keluar Kelas, agar kau tidak kuper di dalam kelas atau Perpustakaan terus.”

“Aku jarang di Kelas. Aku lebih banyak berada di Perpustakaan.” Sahutku menimpali.

“Ya, itu maksudku. Kau lebih baik bergaul dengan banyak orang, jangan melulu berada di Perpustakaan.”

“Apa salahnya?” tanyaku “Aku hanya ingin menghilangkan kesendirianku dengan membaca buku”

“Bagaimana rasanya jadi Kutu Buku?” tanyamu ingin tahu.

“Kau lihat sendiri. Biasa saja tuh. Kalau kau, bagaimana rasanya menjadi Siswa Teladan?”

“Kau lihat sendiri, aku tak patut dibilang seperti itu. Aku malah lebih sering tidak menulis atau mengerjakan tugas bersama di kelas..”

“Lalu, kenapa semua memilih kau sebagai siswa teladan?” tanyaku.

“Yah, aku tak tahu.” Kau nyengir kepadaku.

Aku tertawa melihat ekspresinya yang lucu..

“Ayo kita Jalan,” ucapnya mengajakku.

“Kemana?” tanyaku.

“Kemana saja, yang terpenting kita jalan.” Ucapnya sambil menggandeng tanganku. Ini yang kedua kalinya setelah peristiwa kemaren yang penuh gejolak.

Kau berjalan di depan, Aku mengikutinya dari belakang.

“Kalau tak ada Tanaman, maka akan lebih panas udara disekolah kita,” katanya pelan kepadaku. “Tanaman menyediakan Oksigen untuk makhluk hidup di sekitarnya. Tapi sekarang, ratusan ribu hektar hutan di Indonesia telah menjadi Gundul akibat penebangan maupun kecerobohan. Dan mereka lupa akan pentingnya menanam Kembali untuk masa depan. Aku, kamu, dan para semua anggota OSIS itu bergerak dan berkumpul karena kita sadar akan pentingnya Penghijauan. Nah, yang parah adalah di Sekolah Kita tidak ada yang menyempatkan seperjengkal tanah yang ada disekolah kita untuk ditanami atau di jadikan taman. Itu yang harus kita perjuangkan. Dan aku salut sama saranmu untuk Membuat Taman Baca diluar Sekolahan yang sekeliling nya ditanami Pohon-pohon atau bunga di sekolahan ini. Tapi aku tak suka caramu yang diam dan pemalu, tak mau tampil di depan untuk menyuarakan keinginan dan suaramu.”

“Meskipun pemalu, tapi aku tetap mendukung Taman Baca itu kok,“ sahutku menjawab.

“Tapi kau curang. Kau harusnya tampil di depan dan menjadi orator ulung untuk menyuarakan visi kita.”

“Aku bukan sepertimu,” kataku menyanggah. “Aku tak bisa berbicara lancar di depan umum sepertimu. Ketika melihat mata mereka, aku menjadi ciut nyali dan memilih menghindar saja.”

“Ayo, aku ajari. Disana, ” dia menunjuk lokasi Bangunan yang lebih tinggi dari yang lainnya. “Kau harus teriak yang kencang, biar kau bisa bicara di depan umum. Ayo coba.”

“Aku tak mau.”

“Harus. Seperti ini.” Dia menuju Bangunan itu, berdiri dengan tegak lalu mengambil nafas yang panjang hingga dadamu membusung, lalu berteriak kencang, “Aa…..”

Suaranya terdengar kemana-mana hingga burung camar yang berkumpul lalu terbang menjauh dari tempat itu. Aku memberanikan diri mengikuti caranya berdiri tegak di Bangunan yang lebih tinggi, kemudian menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkan teriakan. “Aaaa…”

“Ah, kau payah. Itu kurang, kau harus lebih berteriak. Seperti ini. Aaaa….” katanya kepadaku.

Aku menirunya lagi sampai tandas kemarahanku, “Aaaa…”

“Nah, gitu. Kau bisa mempraktekkannya. Di teras Pondokmu. Hahaha. ” tawanya dihempas angin pagi dari timur. “Aku tetap akan mengusulkan agar taman baca dengan konsep alam,” katanya perlahan kepadaku. “Ah, sudah ada bunyi Bell. Ayo kita Masuk.”

Aku mengikuti arahnya menuju kelas sebelah. Dia berjalan dengan riang sekali, seperti tak ada mengamatinya.

Hari itu adalah hari pertama aku mengenalnya, bercanda riang sampai tandas.

Saat-saat itulah yang membuat aku semakin dekat dengan dia. Sedekat layaknya hubungan seorang kakak dengan adik, karena saat itu, memang belum ada kepastian antara hubungan aku dan dia selain hubungan sebagai kakak adik. Walaupun aku tahu, aku tidak bisa membohongi perasaan diriku sendiri, bahwa aku mencintai dia lebih dari seorang adik. Karena saat itu, aku tahu, aku seorang santri, dan santri dilarang pacaran, bagaimana mau pacaran, waktu pun aku tidak punya, karena waktu ku hanya untuk ngaji, ngaji dan ngaji. Aku pun takut, karena aku tidak ingin menghancurkan impian dan harapan kedua orang tuaku yang bersusah payah bagaimana caranya agar mereka tidak telat mengirimiku setiap bulan. Dengan harapan suatu saat agar berguna bagi masyarakat di kampung halamanku.

Dan saat itu aku tidak ada keberanian untuk mengungkapkanya, kalu aku benar-benar mencintai dia. Sampai pada akhirnya bukan aku yang menikah denganya.

Aku beranikan diriku, untuk mengatakan Ucapan Selamat kepada Dia, karena aku tidak ingin ada air mata yang jatuh di pipinya. Karena ini hari terakhirku tuk bertemu dengan dia, melihat senyumnya yang selalu membawa kedamaian didalam hatiku.

Iffah, semoga engkau bahagia denganya.

Pekalongan – Brebes. 2009

Cangkang

TIDAK ada satu pun penduduk kampung itu yang tahu darimana cangkang tersebut berasal. Dan, bagaimana cangkang itu tiba-tiba ada di balai dusun. Cangkang tersebut ada tiba-tiba. Teronggok di balai dusun pada suatu pagi setelah malam harinya hujan turun dengan deras. Tak pernah ada hujan sederas itu sebelumnya. Hujan yang membawa banyak petir. Hujan yang disertai angin. Dan, semua orang memilih berdiam di rumah. Warung-warung tutup. “Alangkah singun ini malam,” kata Bayan kepada istrinya. “Pasti akan terjadi sesuatu,” lanjutnya.
Dan, benarlah. Pagi harinya, Bayan yang rajin itu, yang selalu sampai paling awal di balai dusun, mendapati cangkang itu tergeletak begitu saja. Cangkang berwarna putih burek. Cangkang seperti cangkang telur ayam. Hanya lebih besar.
Cangkang yang misterius itu pastilah akan dibuang begitu saja dan tak menimbulkan banyak pertanyaan andai saja bukan Bayan yang menemukannya pertama kali. Bukankah Bayan itu yang berpikir akan terjadi sesuatu di kampung ini? Dan, perkiraan Bayan itu seperti mendapat pembenaran ketika ia menemukan cangkang itu.
“Alangkah aneh cangkang ini. Pastilah cangkang ini yang dibawa hujan semalam. Hujan yang tak terkira derasnya itu,” kata Bayan. Bayan pula yang kemudian memukul kentongan. Mengundang semua warga untuk berkumpul dan meninggalkan pekerjaan mereka di sawah atau kebun.
“Ah, itu pasti telur angsa. Tidak ada yang aneh dengan itu,” kata salah seorang penduduk yang merasa jengkel karena mesti meninggalkan tanaman padinya yang butuh diairi itu.
“Bukan, bukan,” jawab Bayan. “Semalam hujan turun deras sekali. Pasti itu bukan hujan yang biasa. Hujan itu pertanda akan ada sesuatu di kampung ini. Dan inilah yang dimaksud hujan itu. Cangkang ini. Ini pasti bukan cangkang biasa. Lihatlah, bila ini telur, pasti tidak sekeras ini. Ada sesuatu dalam cangkang ini. Dan itu pastinya akan berhubungan dengan kampung ini,” tambah Bayan dengan sengit.
“Lalu bagaimana? Apakah kita pecahkan saja cangkang ini biar jelas apa isinya?” tanya Kepala Kampung.
“Jangan gegabah. Kita belum tahu apa-apa tentang cangkang ini. Saya takut bila ternyata cangkang ini menyimpan bubuk bencana. Bubuk yang bisa menyebar dengan cepat dan menimbulkan banyak kerusakan pada kampung kita,” jawab Bayan.
“Lalu bagaimana? Apakah kita buang saja ini cangkang?” tanya Kepala Kampung lagi.
“Itu juga bukan pilihan yang bijak. Saya juga takut bila ternyata cangkang ini menyimpan berkah. Semacam jimat. Bila kita membuangnya, maka si pemberi jimat akan marah dan menurunkan bencana untuk kita. Dan bisa pula bila cangkang ini adalah penanda lain yang akan membuat hasil panen kita berlimpah,” jawab Bayan.
Maka akhirnya, diputuskan agar cangkang itu disimpan sementara waktu. Disimpan di balai dusun sampai ada yang bisa menjelaskan apa sebenarnya cangkang itu. Bayan yang pertama menemukan cangkang tersebut ditugaskan untuk mencari orang pintar guna mengetahui cangkang itu sebenarnya.
Seorang dukun perempuan dari lereng gunung yang jauh kemudian menjelaskan perihal cangkang itu.
“Jadi, pada malam itu.” Si dukun memulai cerita, “Celeng Sarenggi turun dari pertapaannya. Celeng itu merasa lapar karena sudah bertahun-tahun dia bertapa tanpa makan tanpa minum. Tanaman yang paling disukai Celeng Sarenggi adalah padi-padi yang sudah hampir tua dan bernas. Dan tidak ada tanaman padi dalam radius puluhan kilometer dari pertapaannya yang lebih bagus dari tanaman padi di kampung ini. Maka dia memutuskan turun ke kampung ini. Turun untuk memangsa padi-padi kalian.”
Dukun perempuan itu diam sejenak. Mengirup kopi hitam suguhannya. “Namun di mana ada Celeng Sarenggi, di situ pula ada Sedana. Tahukah kalian siapa Sedana itu? Sedana itu saudara laki-laki Sri, si dewi padi yang menumbuhkan padi-padi yang kalian tanam. Sedana itu pelindung Sri. Dan Celeng Sarenggi adalah musuh abadi Sri. Sebab itu, pada suatu ketika, Sedana bilang, ‘Akan kulindungi Sri dari Celeng Sarenggi. Di mana pun dan kapan pun Celeng Sarenggi hendak menyakiti Sri, menyakiti padi-padi yang ditumbuhkan Sri, aku akan datang. Datang untuk mengusir Celeng itu.’
Pada malam itu Sedana juga muncul. Muncul bersamaan dengan Celeng Sarenggi. Mereka bertarung dengan hebat. Suara tarung mereka itulah yang kalian dengar sebagai petir yang tak habis-habisnya semalam suntuk itu. Angin kencang tersebut adalah angin yang ditimbulkan dari udara yang terkebas di sekitaran medan tempur mereka itu. Sedangkan hujan tersebut adalah peluh dari sepasang petarung itu.
Celeng Sarenggi teramat sakti. Ia sudah bertahun-tahun bertapa. Dan dari hasil pertapaannya itu, ia memperoleh aji-aji yang membuatnya tak bisa mati. Berapa kali pun Sedana memenggal kepalanya, Celeng Sarenggi akan tetap hidup. Kepalanya akan kembali menempel di lehernya yang pendek dan hitam itu.
Tapi Sedana juga sakti. Lebih sakti dari Celeng Sarenggi. Sedana juga pertapa yang baik. Juga, jauh lebih khusuk daripada Celeng Sarenggi yang dalam tapanya masih tergoda untuk makan dan minum. Sedana pun tahu bahwa Celeng Sarenggi tidak bisa mati. Sebab itu, kemudian ia menangkap Celeng Sarenggi dan memasukkannya ke cangkang ini. Cangkang yang diciptakan Sedana dari seruas tulangnya sendiri.”
Orang-orang melongo. Antara percaya dan tidak. Dan dukun perempuan itu menghirup kopi sekali lagi. Lalu, meneruskan bercerita.
“Simpanlah baik-baik cangkang ini. Jangan sampai hilang atau pecah. Simpan baik-baik. Sebab, dalam cangkang ini meringkuk Celeng Sarenggi yang lapar. Sekali cangkang ini pecah, Celeng Sarenggi akan keluar dan menghabiskan seluruh padi kalian. Tidak akan ada hasil panen lagi. Sebab, Sedana sedang memulihkan diri. Sedana tidak bisa tiba-tiba datang saat ini. Dia mengalami banyak luka karena serudukan Celeng Sarenggi. Butuh bertahun-tahun lagi agar dia bisa benar-benar pulih.”
Orang-orang kampung pun percaya itu. Bayan ditugaskan untuk menjaga cangkang tersebut. Menjaga agar tidak hilang, apalagi pecah. Dan selama bertahun-tahun kemudian, hasil panen padi di kampung ini senantiasa melimpah. Lebih melimpah dari tahun-tahun sebelumnya. Tak ada hama. Tak ada wabah di kampung.
***
“Itu hanya dongeng lama. Dongeng yang tak masuk akal. Cerita itu hanya cocok untuk mengantar bocah tidur. Tidak ada itu Sedana. Tidak ada itu Sri. Tidak ada itu Celeng Sarenggi. Bila ingin tanaman padi bagus, ya harus dirawat dengan baik. Diairi dengan baik. Dipupuk dengan baik. Jangan lagi percaya dengan cangkang itu. Itu hanya cangkang. Tidak ada Celeng Sarenggi di dalam cangkang itu,” kata seorang pemuda yang baru pulang dari kota yang jauh. Pulang setelah menyelesaikan kuliahnya pada jurusan pertanian di universitas besar. Pemuda itu cucu dari Bayan yang ditugaskan menjaga cangkang itu selama bertahun-tahun.
“Di kampus, saya telah diajari bagaimana menanam padi yang baik. Dan dengan senang hati akan saya ajarkan pada kalian semua. Sungguh, ternyata dalam pelajaran yang saya terima itu, tidak ada Celeng Sarenggi atau Sedana. Semua tergantung dari pengolahan tanah, pemilihan bibit, pengairan, dan hal-hal semacam itu. Tapi tidak ada Celeng Sarenggi dan Sedana. Lagi pula, bukankah kalian adalah orang-orang yang beragama. Jangan menjadi musyrik dan menyekutukan Tuhan dengan percaya pada cangkang itu,” lanjutnya berapi-api.
Karena hanya pemuda itu di kampung itu yang pernah kuliah dan dianggap paling pintar, orang-orang percaya dengan ucapan pemuda tersebut. Orang-orang pun akhirnya menyetujui juga ketika pemuda itu hendak memecahkan cangkang. Beberapa orang tua–termasuk Bayan–yang awalnya tidak setuju, akhirnya juga tidak menolak ketika pemuda itu menuduh mereka musyrik bila terus-terusan mempercayai cangkang itu.
“Tidak akan masuk surga mereka yang musyrik!” tegas pemuda itu.
“Lihatlah! Lihatlah! Tidak ada apa-apa dalam cangkang ini. Kosong. Tidak ada apa-apa. Tidak ada Celeng hitam besar bertaring panjang dan tajam dalam cangkang ini. Kosong! Benar-benar kosong!” seru pemuda itu setelah memecahkan cangkang itu dengan palu besar di hadapan orang-orang.
“Jangan percaya lagi dengan hal-hal tidak masuk akal seperti bualan tentang cangkang itu. Akan kuajari kalian cara menanam padi yang baik hingga hasil panen kalian bisa berlipat-lipat jumlahnya,” pungkas pemuda itu.
***
Pemuda itu pergi pada suatu pagi. Kepada Bayan kakeknya itu, ia berkata, “Saya akan kembali ke kampus. Menanyakan masalah ini pada dosen saya dulu.”
Bayan itu tidak melarang. Bayan itu hanya terpekur sedih. Sama sedihnya dengan orang-orang kampung yang lain. Orang-orang kampung yang telah mengikuti semua yang diajarkan pemuda sarjana pertanian itu dalam menanam padi. Namun tetap saja padi-padi itu tidak bisa dipanen. Padi-padi itu memang tumbuh dengan bagus pada awalnya. Namun padi-padi itu selalu rusak beberapa hari sebelum dipanen. Dan pemuda itu tidak mengerti apa yang salah dengan teori yang didapatnya semasa kuliah dulu.
Orang-orang kampung kemudian menyesal telah setuju untuk memecahkan cangkang itu. (*)
.
.
Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Pacet, Kabupaten Mojokerto. Menulis cerpen dan puisi, bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.cangkang

Kota Orang-orang Bisu

SIAPA pun pasti akan sulit percaya bila aku katakan bahwa saat ini aku sedang berada di sebuah kota yang tak ada dalam peta. Kota dengan penghuni yang bisu. Ya. Bisu. Semua penduduknya bisu.
Dan karena semua penduduknya bisu, maka mereka hanya saling tersenyum atau menganggukkan wajah bila berpapasan sebagai tanda menyapa. Mereka menunjuk barang apa saja yang ingin mereka beli di toko. Dan karena semua bisu, maka sebanyak apa pun penduduk kota itu, suasana tetap saja begitu hening.
Kota itu adalah kota yang tua. Begitu tua. Kau bisa mengetahuinya hanya dengan melihat bangunan-bangunan yang ada di kota itu. Semua mengesankan bahwa bangunan-bangunan itu telah ada semenjak ratusan tahun yang lampau. Begitu pula dengan model pakaian yang mereka kenakan. Aku tidak tahu kenapa bisa begitu. Aku menduga karena posisinya yang begitu sulit dicari (bahkan, peta paling lengkap pun tak sanggup menggambarkan letak kota itu), maka kota itu menjadi terputus dengan peradaban yang ada di luar kota tersebut.
Konon, dulu sekali, penduduk kota itu sama seperti orang normal kebanyakan. Tidak bisu. Bisa bicara. Pada waktu itu, kota tersebut dikuasai oleh seorang penguasa yang kejam. Yang begitu haus kekuasaan. Yang takut kekuasaannya bakal direbut orang lain. Tidak sekali dua kali si penguasa menerapkan kebijakan yang sama sekali tidak bijak. Misal: menetapkan tarif pajak yang sama dengan penghasilan penduduknya. Atau ketika si penguasa hendak merenovasi kediamannya yang besar selayaknya istana, mewajibkan setiap penduduk kota itu bekerja di sana tanpa upah. Persis kerja rodi. Atau romusa. Si penguasa juga menjadikan segala tambang yang ada di kota itu (dulu, kota itu memiliki banyak tambang, mulai tambang emas, tambang minyak bumi, hingga tambang batu bangunan) menjadi milik pribadinya.
Tidak ada yang berani melawan si penguasa. Si penguasa memiliki pasukan yang kuat dengan persenjataan yang canggih. Siapa pun yang berani melawan, akan bernasib tragis. Pagi melawan, sore mati. Begitulah selama bertahun-tahun.
Tidak ada yang secara terang-terangan mencoba melawan si penguasa. Semua penduduk merasa ketakutan. Dan orang yang takut, pada akhirnya, hanya berani bergunjing di belakang. Membicarakan segala sesuatu tentang si penguasa yang buruk-buruk.
Namun, seperti kata pepatah, sebaik-baik menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga, begitu pula dengan gunjing-gunjing tersebut. Entah bagaimana, si penguasa akhirnya tahu juga bila semua warga kota itu selalu menggunjingnya, membicarakan keburukannya.
“Suatu hari, gunjing-gunjing itu bisa berubah menjadi gerakan pemberontakan!” demikian kesimpulan si penguasa. “Ketika waktu itu tiba, bukan tidak mungkin sekuat apa pun pasukanku, tidak akan dapat meredam orang-orang itu,” pikirnya lagi.
Maka begitulah. Pada suatu ketika, dengan tujuan agar tak ada lagi penduduk kota yang membicarakan keburukannya, yang kemungkinan besar bisa membahayakan kedudukan si penguasa di kemudian hari, si penguasa mengeluarkan kebijakan yang aneh. Kebijakan paling aneh yang pernah dibuat. Memotong lidah semua penduduk kota itu.
Dan bukan hanya lidah orang yang sudah dewasa yang dipotong, melainkan juga lidah anak-anak. Bahkan, lidah mereka yang masih bayi. Lalu begitulah. Entah kenapa, setelah semua lidah penduduk dipotong, setelah semua yang ada di kota itu menjadi bisu, setiap bayi yang lahir, tiba-tiba saja sudah tak berlidah. Semua orang menjadi bisu. Hingga hari ini.
Itu memang cerita yang sulit diterima akal sehat. Namun, cerita itu bukanlah satu-satunya cerita tentang asal mula bisunya penduduk kota tua itu.
Ada cerita lain. Konon, dulu, penduduk kota ini adalah orang-orang yang banyak bicara. Tidak sedetik pun mereka tidak bicara. Bahkan, dalam tidur pun, mereka bicara. Mengigau. Semua selalu ingin bicara. Semua selalu ingin ucapannya yang didengar. Namun siapa yang mendengar bila semua orang hanya ingin bicara? Semua seolah lupa kenapa Tuhan menciptakan satu mulut dan dua telinga. Semua seolah lupa bila Tuhan ingin kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Dan keadaan seperti itu semakin parah karena ternyata yang mereka bicarakan semata bualan! Bualan belaka!
Pada waktu itu, entah dari mana, seseorang yang konon adalah wali Tuhan, sampai ke kota itu. Si wali begitu terkejut mengetahui betapa orang-orang di kota itu teramat suka membual. Namun si wali tahu, lidah bisa membual, tetapi tidak halnya dengan mata. Mata selalu jujur perihal apa yang ada di dalam hati. Segala yang ada di hati, yang sebenarnya, seperti tersirat dari pandangan mata. Mata seolah telaga bening dengan dasar berupa hati. Itu pula sebabnya orang-orang menyebut mata sebagai jendela jiwa.
Konon, kemudian si wali yang prihatin berdoa. Berdoa agar semua orang di kota itu berhenti membual. Agar orang-orang di kota itu tidak lagi bicara dengan mulut dan lidah. Melainkan dengan mata.
Semenjak itu pula, semua orang menjadi bisu. Bisu hingga turun temurun. Hingga hari ini.
Aku tidak tahu cerita versi mana yang benar. Dan itu tak penting benar bagiku. Aku datang ke kota ini dengan niat awal untuk tinggal di sini. Tinggal bersama kekasihku. Kekasih yang pada awal-awal percintaan kami berkata bahwa dia akan selalu mencintaiku. Kekasih yang bersumpah hanya akan mengucap cinta kepadaku.
Waktu itu, aku percaya. Hingga kemudian, beberapa waktu yang lalu, aku tahu, ia menggunakan lidah dan mulutnya untuk mengucap cinta kepada lelaki lain. Dan bukan hanya mengucap cinta, lidah dan mulut itu juga mengecup serta mengulum mulut dan lidah lelaki lain. Bahkan, mungkin, bukan hanya lidah dan mulut lelaki lain itu saja yang ia kecup dan kulum. Mungkin juga bagian tubuh yang lain dari lelaki itu.
Aku cemburu. Aku menuntut sumpahnya. Tapi ia bilang aku terlalu mengada-ada. Ia bilang aku terlalu cemburu. Ia bilang ia tidak melakukan apa-apa yang aku tuduhkan kepadanya. Ia berkata lagi, ia bersumpah lagi tetap mencintaiku. Dan aku meminta pembuktian. Aku meminta kepastian bahwa lidahnya tidak bakal mengucap cinta kepada lelaki lain. Aku meminta kepastian bahwa lidahnya tidak bakal menjilati tubuh lelaki lain.
Begitulah. Dengan bersusah payah, dengan cara yang teramat sulit dijelaskan, kami sampai ke kota ini. Kota tua bisu. Aku yakin, ada enggan di dalam hati kekasihku. Barangkali kadarnya cuma sedikit. Tapi ada. Dan aku memaksanya.
Demi cinta.
“Di sana, di kota orang-orang bisu, tidak bakal ada yang melihat kita dengan aneh. Tidak ada yang memandang kita dengan pandangan kasihan. Bukankah sangat tidak nyaman menyadari bahwa orang memandang kita dengan pandangan yang serupa itu, bukan? Bukankah kita hidup di negeri yang aneh? Negeri di mana orang- orang suka meremehkan orang-orang yang mereka anggap cacat? Di kota itu, di kota orang-orang bisu itu, kita tidak akan mendapat pandangan yang aneh. Kita tetap menjadi manusia yang utuh, manusia normal ketika berada di sana,” kataku. Meyakinkan.
“Bukankah kau mau membuktikan kalau kau memang benar-benar mencintaiku?” desakku.
Begitulah mulanya kami sampai di kota itu. Kami saling mengucap cinta. Mengucap nama masing-masing. Itulah kata-kata terakhir yang lidah kami ucapkan. Sebab setelah itu, kami sama-sama menghunus pisau. Saling memotong lidah. Saling membisukan diri. (*

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto. Sebagian tulisannya pernah terbit di beberapa surat kabar. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam Kelompok Suka Jalan.

SENANDUNG CINTA BUAT NENG ZAHRA

Muslimah-Bermain-Biola

PROLOG

Ajmalaa dzikro hadil alaina
Nilna fiiha kul amaninaa
Nilna ………..fihaa………..
Nilna fiiha kul amanina…………………………………………..

Sayup sayup kudengar nyayian hadrah nan merdu.suara itu berasal tak jauh dari jajaran blok kamar para santri putra. Yang tak lain ruangan sebelah kompleks masjid pondok pesantren Ar Rasyidin. Aku mendengarkanya sambil tiduran di atas kasur lantai yang sedemikian rupa sudah diatur para pengurus untuk kamar para santri putra. Sambil membaca buku Sang Pemimpi karangan penulis Andrea Hirata. Saat ini aku tidak bisa mengikuti apa yang dilakukaan para santri putra di ruangan sebelah kompleks masjid itu. Karena saat ini aku baru saja pulang dari universitas tuk mengurus administrasi yang belum aku selesaikan. Selain itu aku juga masih tergolong santri baru disitu. Ya bisa di bilang baru tiga hari ini. Jadi pihak pondok terutama para pengurus memberikan dispensasi selama satu minggu. Untuk mengurus hal hal yang berkaitan dengan unniversitasku ,dimana yang menjadi tempat kuliahku.

‘’Man! Kok kamu disini sih. Lihat tuh semua anak-anak santri putra pada kumpul disana!’’ suara Hasan membuyarkan imajinasiku. Yang terlibat dalam sebuah kisah dua anak sma yang sedang dikejar oleh kepala sekolahnya, dalam buku yang berjudul sang pemimpi. Yang baru saja aku baca.

‘’Hm, paling juga dengerin cerita-cerita soal kegiatan anak-anak pondok doang,’’cibirku pada Hasan teman sekamarku yang baru aku kenal dua hari yang lalu. ‘’Enggak ada asyiknya lagi!’’
‘’Jangan mikir soal cerita dari anak-anak santri putranya dong. Tapi , serunya bisa bareng- bareng sama yang lain itu lho. Apalagi ini juga perlu buat kumu, agar kamu bisa ta’arufan dengan teman-teman yang mondok di sini gitu. Hasan Nampak serius sambil menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya.

‘’Huh!’’ gerutuku padanya. Santri yang satu ini memang baru beberapa hari aku kenal. Tapi santri ini memang bisa saja mampu mengalihkan kegiatanku. Apa karena hanya dia teman yang paling dekat saat ini denganku. Tapi itu tak penting bagiku. Tanpa menunggu lama segera kuayunkan langkah tuk mengikutinya, ikut bergabung bersama rombongan diskusi anak-anak santri putra.
‘’Hai bro?’’ sapa Hasan pada rombongan para santri yang sedang asyik dengerin cerita dari salah satu santri di situ. ‘’ Hai juga bro!’’timpal dari salah santri putra di situ.
“Hai kalian itu bagaimana sich, ini itu di pondok pesantren. Bukan di tempat nongkrong. Pakai bra bro segala nanti kalau kedengeran sama ustadz pondok yang sedang lewat sini. Baru tau rasa kalian.’’ Tegur salah satu santri yang ikut nimbrung di situ juga.

“Maafin teman saya ya?’’pintaku pada semua santri yang ada disitu. ”Oh gak apa –apa. O, ya. Kenalkan aku Sahid ketua blok B di santri putra ini.’’ Dia mengulurkan tangan sambil tersenyum. ‘’kalo kamu butuh bantuan, aku selalu siap.’’

Aku membalasnya, ‘’Salman al faris.’’

‘’Kamu anak yang baru itu kan. Calon mahasiswa psikiater di universitas Gajah mada .’’ ‘’Insyaallah mas,’’ balasku.

‘’O, ya. Kamu sudah punya jadwal pondok belum?’’

‘’Kemarin aku belum sempat fotokopi,’’balasku lagi.

‘’Tunggu sebentar!’’dia berdiri, mencari sesuatu di sekeliling tempat duduknya. Tak lama kemudian di menemukan sebuah buku yng sedari tadi di cari. Dan menuliskan sembari membacakan jadwal untukku.

‘’Jam 03.00 bangun pagi, qiyamul lail, trus sholat subuh dan ngaji di aula. Habis itu berangkat sekolah sampai jam 14.00. Ngaji lagi jam 15.00 di aula. Bakda magrib ngaji sama pembimbing, dan bakda isya diniyah malam sampai jam 20.00 dilanjutkan jam wajib belajar. Sessudah itu tidur.’’
‘’O, ya lupa tapi kalau buat mahasiswa yang nyantri di sini untuk kegiatan ngaji di siang dan sore hari di bebaskan, sebenarnya bukan dibebaskan tapi kalau misalkan gak bisa ya nggak apa-apa. agar kegiatan kuliah mu tidak bersebrangan dengan jadwal pondok. Tapi kalau mau ikut ngaji ya alhamdulilah sangat di perbolehkan.’’

Aku meyimak seksama, sambil membayangkan teryata hari-hari santri di sini begitu supersibuk dengan aktivitas berjubel. Tapi yang membutku takjub. Mereka begitu menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Setelah selesai Sahid menuliskan jadwal untukku. Di meyerahkanya kepadaku. ‘’Tolong di simpan jadwalnya baik-baiknya soalnya aku ngak mau menuliskan jadwal lagi untukmu.’’ Sahid memberikanku sambil pasang wajah cemberutnya. ‘’Ngak ikhlas ni mas?’’ aku nmengerling jenaka. ‘’O, ngaklah, aku ikhlas kok bahkan 100% ikhlasnya’’ balasnya tak mau kalah.

Malam itu, aku habiskan malam bersama anak-anak pondok putra lainya dan kami pun saling shering mengenai bagai mana kegiatan anak-anak santri lainya. Bahkan kadang kita ngobrol ngalor- ngidul entah tidak tahu apa yang mesti di bicarakan atau sekedar di obrolkan untuk mengisi waktu luang kami.

Pagi harinya setelah habis ngaji di aula trus dilanjutkan dengan sarapan bareng. Dinamakan sarapan bareng karena kami melakukan kegiatan bersama-sama sampai menu makannya pun sama. Aku bergegas ke kamarku untuk ganti baju karena hari ini hari pertamaku mengikuti kegiatan orientasi studi dan pengenalan kampus (OSPEK) di kampusku. Aku menggunakan waktuku dengan se efesien mungkin, bagaimanapun agar aku tidak telat berangkat ke kampus.
Aku , sudah berada dalam bus yang menuju kampusku. Kulihat Jam tangaanku menunjukan pukul tujuh. Padahal, aku harus sampai ke kampus tepat jam tujuh. Aku bingung, bagaimana aku menjelaskan kepada kakak-kakak panitia ospek atas keterlambatanku ini. Tak lama kemudian tepat jam tujuh lewat lima belas menit. Aku langsung turun di perempatan dekat kampusku. Untuk sampai di tempat berkumpul para mahasiswa baru fak psikologi yang sudah di tentukan oleh panitia. Dengan sekuat tenaga aku berlari sekencang mungkin, agar aku tidak telat terlalu lama.
Tidak butuh waktu terlalu lama untuk sampai ke tempat yang aku tuju. Ya hanya makan waktu lima menit. Aku sudah bisa sampai, walaupun napasku agak tersengal-sengal dan tak karuan iramanya. Di depanku semua anak-anak baru, sudah di bariskan . Dan salah satu dari kakak seniornya yang berada di depan barisan mulai memberi pengarahan.

“Maaf kak saya terlambat,’’ sapa ku pada salah satu panitia ospek yang berada di belakang peserta .
“Kenapa bisa terlambat!. Padahal kemarin sudah ada kesepakatan setuju kalau kumpul disini tepat jam tujuh.’’ Balasnya sambil mengeraskan suaranya tepat di kuping sebelah kananku.
‘’Gini kak, soalnya tadi bis yang aku tumpangi macet.’’

‘’Macet. Kayak tidak ada alasan lagi selain macet.’’

Aku terdiam dan tertunduk. Aku pasrahkan diriku menerima berbagai omelan darinya. Tapi tak lama kemudian , datang lah panitia yang dari tadi memberi pengarahan pada mahasiswa baru.
‘’Kenapa bisa terlambat mas? Mas nyantrinya ? ,’’ Tanyanya dengan sopan.

‘’Iya. Mas!,jawabku singkat. Aku masih merundukan kepalaku.

‘’Ya sudah. Saya maklumi. Besok jangan di ulangi lagi. Silahkan gabung sama temen-temenmu.’’

‘’Dan jangan lupa besok di usahakan datang lebih awal.’’

‘’Makasih , ya mas’’ balasku sambil tersenyum kepadanya.

“Eit.bukanya itu mas Sahid.! Kalau gitu berarti mas Sahid kuliah di sini juga. Makanya saat itu dia sudah tahu namaku duluan. Dan dia juga tahu kalau aku akan kuliah di sini’’ dalam pikirku mengumpulkan beberapa kejadian dan akhirnya dapat kusimpulkan. Bahwa Mas Sahid Kuliah di

UGM juga. Dan beliau sekarang jadi ketua panitia OSPEK. Akupun langsung bergabung dengan teman-temanku.’’ Seharusnya kakak senior itu harus lebih bijak sana. Bukannya malah senang melihat adik-adiknya yang terlambat , dan di jadikan bahan ejekan pada peserta lain. Dan tidak mau mendengarkan dan menelaah alasan mengapa anak itu bisa terlambat. Tidak seperti kakak yang tadi. Iya tidak seperti Mas Sahid, yang bisa memaklumi keterlambatan adik-adiknya.’’ Gerutuku dalam hati.

Tidak terasa tiga hari sudah berlalu, sungguh hari-hari yang melelahkan bagiku. Untuk menghilangkan rasa pegal-pegal yang terasa di smua anggota tubuhku, aku rebahkan tubuhku di kasur lantai. Hari ini hari terakhir waktu dispensasiku di pondok. Jadi aku harus gunakan waktuku dengan sebaik mungkin tuk mempulihkan tenagaku yang sudah hampir habis.setelah beberapa hari di sibukkan dengan kegiatan ospek di kampus.

‘’Salman !, ngaji gak? Semua anak-anak dah pada siap-siap tuh! Melek dulu, mandi dulu sana! Ntar telat. Hari ini kamu ngaji loh!’’ kudengar Hasan teman sekamarku menegur.

‘’Gak ‘’ jawabku singkat mataku sangat burem, terlihat samar-samar jam yang menempel di dinding kamarku menunjukan pukul dua lebih tiga puluh menit.

‘’Kenapa, Bukanya ospeknya dah selesai?’’ Tanya Hasan yang sedari tadi masih setia di sampingku.
“Aku masih punya waktu sehari lagi, dari dispensasi yang di berikan pengurus. Jadi aku masih mau gunakan waktuku buat ngilangin rasa capekku’’ terangku padanya.

‘’Ya, sudah kalau begitu’’ jawab Hasan sambil berlalu meninggalkanku.
‘’Mubadzir kan punya waktu gak di gunakan’’ gerutuku mengiringi langakah Hasan. Aku pun melanjutkan acara bermalas ria di kamar sendirian. Dan akupun mulai berlabuh menuju mimpi- mimpi yang indah.

‘’Bangun-bangun, sudah jam lima. Asaran-asaran.!’’ Kudengar lagi suara hasan menegur.

‘’Ya!.’’ Jawabku singkat.mataku masih burem. Ya allah, terima kasih. Akhirnya pegal-pegal di tubuhku hilang juga. Dan maafkan hamba-mu ini karena tidak bisa melakukan kewajibanku terhadap engkau tidak tepat waktu.

Pelan-pelan ku angkat tubuhku dan aku mulai bisa berdiri. Ku ambil handuk yang tersampir di dekat almariku, serta perlengkpan mandi lainya. Kakiku masih agak kaku, tapi tetap kupaksa melangkah ke tempat pemandian santri.

Satu Tiga

Sore itu sudah berlalu. Seiring hilangnya matahari di sebelah barat. Yang perlahan-lahan menenggelamkan wajahnya yang kuning kemerah-merahan. Dengan seiringnya waktu berjalan.
‘’Mas Salman, bisa ke kantor pengurus sebentar. Mas sahid mau ketemu sama kamu.’’ Kata Mas Rahmat di depan pintu. Suaranya yang halus terdengar lembut di telingaku. Mas Rahmat memang Salah satu pengurus pondok disini. Dan beliau ada di bagian seksi kegiatan. Dan Mas Rahmat salah satu dari pengurus yang tidak begitu kelihatan serem. Mas sahid juga. Lalu ia berbalik, menuju kantor pengurus.

Aku menatap kepergian Mas Rahmat dengan tanda tanya dalam hati.’’ Ada apa Mas Sahid mau ketemu sama aku. Ah sudah lah yang penting aku temui dulu kalau ada apa-apa belakangan’’ pikirku.

Aku pun bergegas meletakkan Al Qur’an yang baru aku baca di rak buku. Aku pun pergi ke kamar sebelah mencari Hasan. Agak aku tidak sendirian ke kantor pengurus. Jadi misalkan terjadi apa-apa denganku Hasan yang tak suruh lari bilang sama teman-teman kalau aku dalam bahaya. Tapi aku mesti kecewa berat. Hasan tidak ada di kamar sebelah, dan sudah ku cari ke semua punjuru pondok. Entah hilanh ke mana dia. Dengan terpaksa akhirnya aku melangkahkan kakiku ke kantor pengurus sendirian.

‘’Assalamualaikum’’ salam ku pada semua penghuni kantor pengurus pondok.

‘’Waalaikumsalam, silahkan masuk Mas Salman.’’ Jawab Mas Sahid sambil mempersilahkan aku masuk dan duduk di lantai karpet.

‘’Makasih Mas’’ jawabku singkat. Aku pun duduk bersila di lantai karpet yang warnanya sudah mulai pudar.

‘’Begini Mas Salman. Kenapa Mas Sahid memanggil kamu ke sini. Karena Mas Sahid mau minta tolong sama kamu. Tapi sebelumnya Mas Salman bersedia nggak ? Kalua tidak bisa . ya nggak apa-apa.’’ Mas Sahid pun melai menjelaskan maksud aku di panggil.
“ Iya. Mas bisa’’

“Gini Mas Salman. Besok itukan Mas Sahid harus meyerahkan LPJ OSPEK kemarin pada pak dekan. Tapi, besok juga aku dapat perintah dari yai Choldun . Mas di suruh mengantarkan keponakannya ke Semarang bersama keluarga pak yai lainya. Jadi Mas sahid tidak bisa Meyerahkan LPJ itu. Makanya Mas minta tolong sama kamu ini LPJ tolong besok berikan sama Mas Bayu yang kemarin jadi panitia juga. Bilang titipan dari Mas Sahid. Dia sudah tahu.’’ Terang Mas Sahid Padaku.

‘’Dan ini LPJ nya”

‘’Iya Mas insyaallah besok tak kasihkan sama Mas Bayu.’’ Jawabku sambil menerima berkas LPJ itu.

‘’Kalau gitu terima kasihnya Mas Salman. Sekarang Mas Salman boleh meninggalkan tempat ini.’’
“Sama-sama Mas. Kalau gitu aku pamit dulunya Mas. Assalamualikum ‘’ aku pun undur diri.

Dan tak lupa salaman sama Mas Sahid dan juga Mas Rahmat.
Sekuluar dari kantor pengurus. Aku pun langsung menuju ke kamarku untuk segera bersiap-siap meyiapkan materi untuk dibha’an nanti malam. Setelah bakdha isya’ nanti. Aku pun berjalan meyusuri teras-teras kantor para pengurus dengan langkah tergesa-gesa karena aku tidak mau kehilangan waktu ku . Dalam langkah ku yang tergesa-gesa dan tidak melihat kiri kanan jalan tiba-tiba aku seperti menabrak sesuatu. Dan ternyata yang ku tabrak seorang gadis berkerudung merah muda. Salman pun segera meminta maaf pada gadis itu.

‘’Maaf Mbak. Maaf. Aku nggak sengaja. Soalnya aku harus buru-buru ke kamarku.’’
‘’Nggak apa Mas. Lain kali kalau jalan sedikit hati-hatinya.’’ Balas gadis itu sambil menegurnnya.

“O, ya Mas, Maaf kalau kantor pengurus di mananya.?’’

‘’Gini Mbak. Mbak lurus aja, terus belok kiri, ruangan no dua dari sebelah kanan itu kantornya.’’
‘’ O, ya tadi Mas Sahid ada disana.?’’

“Ada Mbak. Baru aja aku ketemu sama dia.!’’

‘’Maaf kalau boleh tahu ada apa. Kok nyari Mas Sahid. Bukanya santri putri di larang ketemuan sama santri putra.’’

“ Alhamdulillah kalau gitu. Soalnya aku di suruh Padhe Choldun . katanya Mas Sahid di suruh menemui beliau. Ya sudah kalu gitu makasihnya mas. Assalamu’alaikaum’’ Gadis itu pun menjelaskannya dan pergi meninggalkanku .

‘’ waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh’’ balasku sambil memperhatiakan langkah kakinya.

‘’Pakdhe. Berarti gadis itu masih keponkannya romo yai

BERSAMBUNG…………DILANJUT LAIN WAKTU YA…………..

PUISI

Kepasrahan

 

Angin, teruslah menderaku

Akan tetap kucumbui semilirmu hingga puncak gairahku

 

Tetaplah mengalir dan membisiki bunga-bunga adenium merah di depan rumah

Aku tetap menantangmu sampai kapan pun hingga takdir ini datang

Aku tetap berharap pada Azza Sang Pencipta akan tobat-tobatku

Dan kubiarkan daun-daun jati luruh

 

Biarkan burung-burung beraneka rupa menyanyikan orkestra

Aku akan tetap mengambang bagai kapas

Lepas, lepas, lepas ….

 

Sooko, 14 – 10 – 2010

 

 

 

 

 

 

 

 

Meraih Asa

 

Ketika hujan menangisi bukit-bukit yang gersang

Dan angin marah pada panasnya bumi

Kau berkata padaku: berlarilah, kejarlah matahari hingga ufuk barat

Jangan hiraukan kerikil tajam melukai telapak kakimu

Sebab kau adalah rusa jantan yang telah kehilangan pasangan betina,

Mau apa?

 

Lihat! Sedari dulu pucuk cemara itu menggoyang-goyangkan diri padaku

Daun-daun kecilnya yang kering menyanyikan lagu parau padaku, selalu begitu

Aku terus tertawa

Dan kau berkata: Optimislah, Tuhan akan mengampunimu

Jangan hiraukan setan yang membisikkan lagu putus asa semacam itu

Sebab kau adalah manusia biasa, namun telah menyerahkan tobat pada-Nya

Optimislah kawan

Jangan pandangi jurang itu lagi lama-lama

Lompatilah

Dan asa akan kau raih sudah  

 

Sooko, 16 – 10 – 2010

 

 

 

 

Peluk Aku Ibu

 

Menangislah meratapi angin parau yang datang malam-malam

Cumbuilah bunga-bunga mekar di taman hati yang rapuh ini

Tak ada gerimiskah yang menghiburku saat hati ini teriris?

Tak ada dongengkah yang dapat kau bacakan buatku seperti dulu?

 

Aku ingin dongeng sebagai mantra yang mengalir

Maknanya meresap dalam jiwaku hingga membuatku tertidur di malam-malam senyap

Gelap sekali, gelap sekali

Asaku terbakar mimpi-mimpi tiap hari, esoknya lagi dan esoknya lagi

Ah, ibu. Peluklah aku erat, peluk aku erat, Ibu

Aku takut hantu seram datang merayap dan membuka pintu rumah kita

Menerkamku dengan suaranya yang tak terbayangkan

Peluk aku, Ibu

Aku ingin tidur di dadamu, seperti dulu

Lalu paginya bangun dengan gairah memandang matahari

Peluk aku, Ibu!

 

Sooko, 16 – 4 – 2011

Makalah

Merangsang Kegiatan Pembelajaran Anak dengan  Penggunaan Warna pada Interior Taman Kanak- Kanak

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masa kanak-kanak adalah masa dimana potensi-potensi dipotret. Usia ini merupakan usia perkembangan dan pertumbuhan yang sangat menentukan perkembangan masa selanjutnya. Berbagai studi yang dilakukan berbagai para ahli menyimpulkan bahwa pendidikan anak sejak usia dini dapat memperbaiki prestasi dan meningkatkan produktivitas kerja masa dewasanya. Begitu pentingnya masa usia dini, Santrock dan Yussen (Solehuddin, 2000 : 2) berpendapat bahwa usia dini adalah masa yang penuh dengan kejadian-kejadian penting dan unik (a highly eventful and unique period of life) yang meletakkan dasar bagi kehidupan seseorang di masa dewasa. Usia TK maupun RA merupakan salah satu rentang umur pada anak usia dini, yaitu usia 4 sampai 6 tahun. Masa ini disebut masa keemasan, karena peluang perkembangan anak yang sangat berharga. Hurlock (1978 : 26) mengemukakan bahwa lima tahun pertama anak merupakan peletak dasar bagi perkembangan selanjutnya. Dengan demikian masa anak-anak sangat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian masa dewasa seseorang. Adapun aspek perkembangan itu meliputi perkembangan moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni. Aspek-aspek perkembangan tersebut tidak berkembang secara sendiri-sendiri, melainkan saling terintegrasi dan saling terjalin satu sama lainnya.
Dari berbagai aspek perkembangan di atas, perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek yang penting untuk dikembangkan karena mempunyai tujuan mengembangkan kemampuan berpikir anak untuk dapat mengolah perolehan belajarnya, dapat menemukan berbagai alternatif pemecahan masalah, membantu anak untuk mengembangkan kemampuan logika matematikanya dan pengetahuan akan ruang dan waktu, serta mempunyai kemampuan mengelompokkan serta mempersiapkan pengembangan kemampuan berfikir teliti. Hal ini senada dengan pendapat Gunarsa (Dewi, 2005 : 11) bahwa kognitif adalah fungsi mental yang meliputi persepsi, pikiran, simbol, penalaran, dan pemecahan masalah.
Dalam kurikulum TK (2004) dijelaskan bahwa kompetensi dasar yang harus dikuasai dalam bidang pengembangan kognitif yaitu anak mampu mengenal konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Adapun hasil belajar yang diharapkan yaitu anak dapat mengenal konsep-konsep sains sederhana yang salah satu indikatornya adalah anak mampu mengenal konsep warna.
Pengenalan warna bagi anak dapat merangsang indera penglihatan, otak, estetis dan emosi. Retina pada mata merupakan mediator antara dunia nyata dan otak, di mana terjadi proses yang membentuk suatu model realita dalam pikiran. Dengan proses kerjasama antara otak dan mata maka akan timbul emosi bahkan estetis. Hal ini sesuai dengan penelitian Becker (Luscher, 1984 : 16) yang membuktikan bahwa ada satu jaringan syaraf yang langsung mengarah dari titik pusat retina ke pusat otak (mesencephalon) dan bagian yang mengeluarkan hormon (pituitary system). Hal ini menunjukkan bahwa persepsi visual tergantung pada interprestasi otak terhadap suatu rangsangan yang diterima oleh mata.
Daivd (Prawira, 1989 : 40) mengemukakan : Warna digolongkan menjadi dua, yaitu warna eksternal dan warna internal. Warna eksternal adalah warna yang bersifat fisika, sedangkan warna internal adalah warna sebagai persepsi manusia, bagaimana manusia melihat warna kemudian mengolahnya di otak dan bagaimana mengekspresikannya.
Warna dapat menciptakan kesan dan mampu menimbulkan efek-efek tertentu. J. Linschoten dan Mansyur (Sanyoto, 2005 : 8) menyatakan kaitan warna dengan aspek psikologis bahwa, “Warna-warna itu bukanlah suatu gejala yang hanya dapat diamati saja, warna itu mempengaruhi kelakuan, memegang peranan penting dalam penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya kita akan bermacam-macam benda.”

B. Rumusan Masalah

Dari uraian tersebut Berdasarkan uraian tersebut di atas dapatlah disusun permasalahan sebagai berikut :
“ Bagaimana Merangsang anak agar senang dalam kegiatan pembelajaran ? ”

C. Tujuan Penulisan

Dari rumusan masalah tersebut di atas maka akan diketahui tujuan dari penulisan masalah ini yaitu:
Mengetahui bagaimana Merangsang anak agar senang dalam kegiatan pembelajaran.

D. Manfaat Penulisan

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini antara lain:
1. Anak akan merasa nyaman dalam kegiatan pembelajaran.
2. Kemampuan dalam mengenal warna.
3. Keaktifan anak dalam mengamati warna.

E. Cara Pemecahan Masalah

Penulis mengambil metode demontrasi sebagai cara pemecahan masalah tersebut diatas. Metode demontrasi diharapkan mampu menjadi perangsang anak dengan lingkungan pembelajaranya.

 

BAB II
LANDASAN TEORI

1. Metode Demontrasi

Metode digunakan sebagai suatu cara dalam menyampaikan suatu pesan ataumateri pelajaran kepada anak didik. Metode mengajar yang tidak tepat guna akanmenjadi penghalang kelancaran jalannya suatu proses belajar mengajar sehinggabanyak waktu dan tenaga terbuang sia-sia. Oleh karena itu metode yang diterapkanoleh guru baru berhasil, jika mampu dipergunakan untuk mencapai tujuan.Dr. Ahamad Tafsir memberikan pengertian metode adalah Cara yang palingtepat dan cepat dalam melakukan sesuatu.. Sedangkan menurut Sukanto Cerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru kepada murid-muridnya, ayah kepadaanak-anaknya, guru bercerita kepada pendengarnya. Suatu kegiatan yang bersifat seni karena erat kaitannya dengan keindahan dan bersandar kepada kekuatan kata-kata yang dipergunakan untuk mencapai tujuan cerita.
Metode Demontrasi merupakan salah satu metode yang banyak digunakan di Raudhatul Athfal/Taman Kanak-kanak. Sebagai suatu metode bercerita mengundang perhatian anak terhadap pendidik sesauai dengan tema pembelajaran. Bila isi cerita dikaitkan dengan dunia kehidupan anak di Raudhatul Athfal/Taman Kanak kanak, maka mereka dapat memahami isi cerita itu, mereka akan mendengarkannya dengan penuh perhatian, dan dengan mudah dapat menangkap isi cerita. Menurut Abudin Nata .Metode bercerita adalah suatu metode yang mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan anak. Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita yang pengaruhnya besar terhadap perasaan. Oleh karenanya dijadikan sebagai salah satu teknik pendidikan. Dunia kehidupan anak-anak itu dapat berkaitan dengan lingkungan keluarga, sekolah, dan luar sekolah. Kegiatan bercerita harus diusahakan menjadi pengalaman bagi anak di Raudhatul Athfal/Taman Kanak-kanak yang bersifat unik dan menarik yang menggetarkan perasaan anak dan memotivasi anak untuk mengikuti cerita sampai tuntas. Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode bercerita adalah menuturkan atau menyampaikan cerita secara lisan kepada anak didik sehingga dengan cerita tersebut dapat disampaikan pesan-pesan yang baik. Dengan adanya proses belajar mengajar, maka metode bercerita merupakan suatu cara yang dilakukan oleh guru untuk menyampaikan pesan atau materi pelajaran yang disesuaikan dengan kondisi anak didik.

2. Tujuan dan Fungsi Metode Bercerita

a. Tujuan Metode Bercerita
Tujuan metode bercerita adalah agar anak dapat membedakan perbuatan yang baik dan buruk sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bercerita guru dapat menanamkan nilai-nilai Islam pada anak didik, seperti menunjukan perbedaan perbuatan baik dan buruk serta ganjaran dari setiap perbuatan. Melalui metode bercerita anak diharapkan dapat membedakan perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Hapidin dan Wanda Guranti, tujuan metode bercerita adalah sebagai berikut :
a. Melatih daya tangkap dan daya berpikir
b. Melatih daya konsentrasi
c. Membantu perkembangan fantasi
d. Menciptakan suasana menyenagkan di kelas.
Dalam kegiatan bercerita anak dibimbing untuk mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan cerita dari guru, dengan jelas metode bercerita disajikan kepada anak didik bertujuan agar mereka memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran al-Qur.an dalam kehidupan sehari-hari dan menambahkan rasa cinta anak-anak kepada Allah, Rosul dan Al-Qur.an.

b. Fungsi Metode Bercerita
Dalam hal ini penulis ingin menyampaikan beberapa fungsi metode cerita :
a. Menanamkan nilai-nilai pendidikan yang baik
b. Dapat mengembangkan imajinasi anak
c. Membangkitkan rasa ingin tahu
3. Teknik-teknik Metode bercerita
Cerita sebaiknya diberikan secara menarik dan membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan memberikan tanggapan setelah guru selesai bercerita. Cerita akan lebih bermanfaat jika dilaksanakan sesuai dengan minat, kemampuan dan kebutuahan anak. Adapun teknik penggunaan dari masing-masing bentuk metode bercerita tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Bercerita dengan alat peraga
2) Bercerita tanpa alat peraga

BAB III
PAPARAN HASIL

Menambah penbendaharaan kata anak didik melalui metode bercerita menjadi alternatif guru untuk melatih anak terbiasa berbicara yang sopan pada lingkungannya. Guru pun diharapkan mampu menjadi teladan dan motivator anak agar terbiasa menggunakan bahasa yang baik. Dalam metode bercerita guru tetap memperhatikan aspek-aspek dalam memilih cerita:
1. Aspek religius
2. Aspek pedagogis/pendidikan
3. Aspek psikologis
Menurut penulis selain lingkungan sekolah, ada beberapa factor lagi yang ikut andil dalam melatih anak terbiasa berbicara yang sopan yaitu :
1. Lingkungan keluarga
2. Lingkungan masyarakat

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Simpulan

Dari uraian di depan penulis dapat menarik kesimpulan bahwa penbendaharaan kata sangat diperlukan bagi anak dalam melatih berbicara yang sopan dengan lingkungannya. Terbiasa berbicara dapat dilakukan dengan cara, antara lain :
1. Memberi ketauladan dan motivasi anak untuk terus berupaya melakukan kebiasaan berbahasa yang baik
2. Pihak sekolah dan keluarga bekerjasama untuk membiasakan anak berbicara yang sopan
3. Ciptakan suasana yang membuat anak dapat mengerti bahasa yang baik dan bahasa yang tidak baik untuk anak

2. SARAN

Dari paparan di depan penulis hanya bisa memberi sedikit saran yaitu memotivasi anak untuk belajar dan terbiasa membaca serta memberi pemahaman tentang berbahasa yang baik dan berbicara yang sopan dengan lingkungan yang dihadapinya.

 

EMAK

Cerpen Rais Muhammad K.S

Emak

 

Tiap orang pasti punya pengalaman tertentu dalam hubungannya dengan emak. Hubungan keakraban, hubungan adanya perlindungan, hubungan adanya harapan, semacam itu. Tapi, apa nama hubungan antara wanita kekar dan laki-laki ringkih ini?
Begitulah, Kawan. Kami bertuju sejak kecil sudah di tinggalkan oleh Bapak kami, kami dipisahkan dengan bapak kami oleh sebuah penyakit yang mengantarkan bapak kami hingga ke ujung maut. Emakku tak pernah marah. Juga tak pernah menguraikan panjang lebar pahit-getirnya kehidupan. Tak pernah bercerita tentang perjalanan roda yang kadang naik, kadang turun, atau semacam petuah warisan leluhur.
Pernah suatu kali emak bercerita tentang perjalanan masa kecilnya yang penuh penderitaan seolah tiada akhir. Selebihnya, emakku hanya diam dan menjalani hidup dengan nyanyian miris dalam bentuk macapat. Aku tak tahu arti tembang itu, tapi aku bisa merasakan kedalaman nada magis tentang kepasrahannya pada kehidupan.
Emakku hanya tamatan SR (sekolah rakyat), Kawan. Menjalani masa kecil dalam kemiskinan tiada tara dan kekacauan seputar pergerakan kemerdekaan. Tak tahu kapan lahirnya, beliau hanya ingat saat sekolahnya terbakar, saat itu beliau kelas enam.
Sekolah ditinggalkannya tanpa berharap mendapat ijazah atau keterangan tamat belajar. Kemarahan api menghanguskan seluruh berkas dan bangunan sekolah tanpa sisa. Hanya ada abu menghitam, sehitam asa para murid SR yang telah menempuh remakan kilometer jalan kaki dari rumah. Tak apalah, kata mereka, para murid itu. Yang penting, mereka sudah lancar membaca dan menulis. Juga berhitung dengan dalil pipolondo, singkatan dari ping (perkalian), poro (pembagian), lan (penjumlahan) dan sudo (pengurangan).
Emakku pun tergolong orang yang tak memedulikan selembar ijazah. Tapi dari cara emak tanda tangan dan menulis namanya di raporku tiap tahun, aku tahu emakku adalah orang yang sebenarnya cukup pandai. Mungkin kepandaianku yang terbaca dari angka-angka di raporku adalah warisan genetik emakku. Kalau menyadari itu, sungguh aku selalu bersyukur hingga kini.
Sulit dibayang kan kehidupan macam apa yang telah dijalani emak di masa kecilnya. Dengan jumlah tiga saudara yang sejak kecil sudah di tinggal oleh ayahnya, di masa sulit, dan berasal dari keluarga jelata, sejak kecil emak terbiasa hidup terpisah dari keluarga. Beberapa saudara laki-lakinya juga begitu. Hidup terpencar-pencar menjadi orang suruhan di rumah orang-orang priyayi, hanya sekadar untuk bisa makan dan bertahan hidup. Bisa makan nasi aking lauk ikan asin sudah merupakan kebahagiaan tiada tara.
Suatu kali emak pernah bercerita tentang masa kecilnya dan aku selalu teriris tiap kali mendengarnya dari suara yang mendengung-dengung di telingaku. Suaranya berat dalam temaram lampu teplok yang bergoyang-goyang ditiup angin dari sela-sela dinding gedheg rumah kami.
Ah, jangan lagi bercerita tentang derita, Emak. Emak sekarang punya tujuh anak empat lelaki tiga perempuan, kelima saudaraku pergi merantau ke jakarta, sekedar mencari pekerjaan untuk kehidupan dirumah agar menjadi lebih layak, dan satunya aku, anak ke enam dari tujuh saudara, meksi ringkih fisiknya tapi cerdas otaknya. Satu lagi adik laki-laki yang cintanya pada Emak, jelas tak terbantahkan. Percayalah, kami bertuju akan mengubur kisah-kisah pilu dalam-dalam, lalu menaburinya dengan bibit-bibit padi yang menerbitkan harapan-harapan! Kami berjanji, Emak. Jangan lagi Emak bercerita tentang kesedihan berulang-ulang!
Begitulah kalimat panjang yang kuteriakkan dari hati yang teriris tapi bibirku selalu hanya bergetar saat akan mengucapkannya.
***
Emak hanya diam bagai salju di kutub utara ketika aku katakan niatku mau kuliah ke Jogjakarta. Masih diam seremak bahasa saat aku sodorkan pengumuman PMDK dari Biro Administrasi UMY. Tubuhnya masih belepotan lumpur saat mentas dari kubangan sawah .
“Emak, aku diterima di UMY Yogjakarta, Emak. Aku akan menjadi Insinyur. Aku akan menjadi priyayi yang akan mengangkat harkat-martabat keluarga kita. Emak senang, bukan?” ujarku.
Emak melihatku dengan tatapan aneh. Aku tak mampu menerjemahkan makna tatapan mata itu. Kemudian emak semakk dengan mencabut rumput-rumput liar yang menjalar disetiap tanaman padi. Aku membantu mencabut rumput-rumput liar itu sambil menunggu jawaban emak. Dengan jantung berdebar-debar, aku menunggu hampir satu jam lamanya untuk bisa mendengar emak bicara. Tapi tak satu patah kata pun, aku dengar.
Diam. Hening.
Pada dasarnya, emakku memang seorang pendiam sepanjang hidupnya. Saat mencangkul sepetak tanah yang berhasil dibeli emak dari tabungan sebagai buruh tani berikut berkarung-karung gabah kering hasil derep, emak juga diam. Saat menanam jagung, tatkala musim panas tiba, tak pernah ada kata-kata berarti yang terucap.
Aku pernah menolong emak menunggui padi yang hampir menguning dari gangguan para burung pipit, di mana emak berada di rumah untuk menyiapkan sarapan buat adikku yang kecil. Yang baru mulai masuk sekolah. Padi yang aku tunggui di serbu oleh segerombolan burung pipit, hingga sepertiga dari tanaman padi itu rusak, karena aku asyik main dengan mainan yang aku bawa, sehingga hasil panen untuk tahun ini, tidak bisa dijual kepada tengkulak. Emak pun tak berbicara apa-apa. Tidak ada kemarahan. Tidak ada keluhan atau semacamnya. Sejak kecil beliau menderita, dan derita bukan sesuatu yang pantas dikeluh-kesahkan.
Begitulah emak. Diam seremak bahasa.
***
Saat di dapur, ada emak. merebus singkong untuk menu makan malam nanti. Aku kembali mengatakan niatku lagi untuk berangkat merantau ke kota impian Yogyakarta.
“Aku nanti akan bekerja apa saja, Emak. Aku tak peduli betapa beratnya beban kehidupan yang bakal aku hadapi, yang penting aku bisa kuliah. Aku mohon doa restu Emak ,” kataku.
Tanpa bicara apa-apa, emak mengatur kayu-kayu yang hampir mati apinya. Sesakali emak memanggang kedua tapak tangannya ke arah tungku api. Bibirnya terlihat biru sepulang bergelut dengan lumpur di sawah tadi.
***
Paman yang melihat kebekuan kami akhir-akhir ini memecah keheningan dengan suaranya yang pelan. “Kami hanya mampu berdoa, kami tak bisa berjanji dapat memenuhi kebutuhanmu di Yogyakarta,” kata Paman .
Ya. Doa. Itu sudah cukup. Aku tak berharap lebih banyak.
“Doa emak dan paman akan memberiku kekuatan saat aku putus asa atau saat aku merasa lelah. Terima kasih, Paman. Terima kasih, Emak.”
Aku tersungkur dalam pelukan hangat Emak. Nyaman sekali ketika kepalaku dielus-elusnya. Kucium tangan emak dengan tetesan air mata. Tangan emak hitam dan kasar sekali. Tentu ini karena hampir tiap hari menumbuk gabah, jagung, atau gaplek buat makan kami sekeluarga. Tangan kasar, tapi saat menyentuh bibirku, terasa ada getaran halus yang memberiku energi untuk hidup.
Percayalah, Emak! Aku akan menghadapi apapun di tanah rantau dengan kekuatan cinta Emak. Begitulah tekadku saat itu.
Saat itu aku tetap tak melihat reaksi apapun dari emak. Aku hanya merasa, emak terlalu lama menderita sehingga terbelenggu dalam putaran penderitaan itu. Emak saat itu tak mampu melihat ada jalan bagi kita untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang menghimpit begitu kuat. Emak sudah merasa cukup bersyukur dan nrima ing pandum, meski hidupnya hanya berputar-putar dalam arus kesederhanaan selama ini. Tak ada gagasan untuk berubah, tapi aku tak menyalahkan emak sedikit pun.
***
Dengan semangat membara di dada aku pun berangkat menuju kota impian. Sambil menelusuri jalanan berkelok melewati tanaman jagung yang menghijau, hatiku bernyanyi membayangkan suasana kampusku nanti dan suasana Yogyakarta yang terkenal dengan angkringanya. Dari rumah aku berjalan kaki sekitar empat kilometer menuju Pertigaan Podo, tempat mangkal tukang ojek. Di sana nanti aku mulai naik bis menuju terminal Pekalongan. Habis itu, aku nanti berganti bis mengambil jurusan Pekalongan – Yogyakarta.
Kudekap tasku di dalam bis itu. Kugenggam uang pemberian emakku dan sisa honor dari Pelatih Pramuka. Aku harus berhati-hati karena di dalam tas ada uang daftar ulang kiriman dari Pamanku yang bekerja sebagi arsitek di Pekalongan. Pamanku yang berhasil menyelamatkan hidupku pada kemungkinan nasib yang lebih baik pada saat yang tepat. Aku tidak tahu, dari mana dapat kuperoleh uang itu kalau tidak mendapat pertolongan Pamanku. Beliaulah yang membiayai sekolahku sampai lulus SMA.
Aku duduk di dekat jendela kanan dari bis. Mataku memandang sawah-sawah yang kering di sisi kanan. Sempat terlintas bayangan emakku yang hitam legam di bawah terik matahari, menggeluti tanah-tanah kering musim kemarau ini.
Emakku tegar saat kutinggalkan, tapi saat aku menoleh dari jarak beberapa langkah, perempuan itu menyeka sudut-sudut matanya. Aku tahu, emakku berat melepaskanku.
Alangkah terkejutnya aku ketika pandangan mataku membentur sosok wanita di pinggir jalan menenteng sepeda kunonya. wanita itu terlihat sudah berkali-kali mengawasi tiap bis yang lewat. Matanya mencari-cari ke dalam bis, barangkali bisa melihat anaknya yang telah berani menantang nasib. Aku berdiri, berteriak-teriak memanggil-manggil emak, tapi tentu saja wanita itu tak bisa mendengar suaraku.
Oh, Emak. Ternyata emak merestui juga kepergianku. Emak tak pernah berkata sepatah pun selama ini, namun bukan berarti beliau marah padaku. Seorang emak tetaplah seorang emak. Rupanya, emak sudah mencegatku di tempat lain sehingga tidak sempat mengantarkan kepergianku.
“Jangan cengeng! Kamu laki-laki kuat. Tubuhmu memang ringkih, tidak sekekar emak atau kakakmu, tapi hatimu keras bagai bongkahan tanah lumpur kering. Otakmu tajam setajam belati. Perjuangkan nasibmu, jangan ikuti nasib emak dan emak sebagai buruh tani! Kamu harus keluar dari belitan nasib yang kejam selama ini!” Emak tentu tak akan bicara kalimat-kalimat ini, namun tanpa kata-kata, itulah makna yang kutangkap dari wajahnya.
Ah, maafkan aku, Emak!
Aku pun tak kuasa menahan air bening yang meleleh dari kedua mataku. Sebuah pelajaran berharga, Kawan. Jangan sekali-kali meragukan satu hal dari seorang emak: cinta dan kasihnya tulus tanpa pamrih pada anaknya. Percayalah!
[]

Pekalongan, 14 Juni 2014.
Rais Muhammad K.S selain sebagai guru di sekolahan
aktif di komunitas teater akar jerami Pekalongan.
Dan juga di komunitas KAJ ( Mojokerto ), beberapa karyanya pernah
di muat dan dibukukan dalam antologi cerpen, { TENTANG KAMI PARA PENUNGGU SORTER } diantaranya
‘’ Purnama di Tepi Sungai Brantas ‘’ kupu-kupu Publiser ( Mojokerto )